Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah SAW (Minyak Misik dan Peniup Pande Besi)

on Senin, 25 Februari 2013


Minyak Misik dan Peniup Pande Besi
Saya ingin berbagi bersama teman-teman mudah-mudahan bermanfaat, langsung saja dalam buku “Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah Saw.” karya Jamaal ‘Abdur Rahman yang diterbitkan oleh Irsyad Baitus Salam. Beliau menerangkan pada pendahuluannya : “Mendidik anak dan mengajar anak bukan merupakan hal yang mudah, bukan pekerjaan yang dapat dilakukan secara serampangan dan bukan pula hal yang bersifat sampingan. Mendidik dan mengajar anak sama kedudukannya dengan kebutuhan pokok dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang mengaku dirinya memeluk agama yang hanif ini.” Dengan demikian, pendidikan Agama mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun jiwa para peserta didik agar selalu berada dalam bingkai Al-Quran dan Sunnah dalam menjalani kehidupan ini, sehingga hal tersebut menjadi salah satu upaya membangun generasi yang yang diridhoi Allah.
            Jamaal ‘Abdur Rahman menjelaskan pula dalam buku tersebut pada bahasan no. 82 hal 211, mengenai peran pendidik atau orang tua dalam mengingatkan anak didiknya agar tidak bergaul dan berteman dengan orang jahat. Sebab, teman sebaya memeliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan perilaku seorang anak, jika seorang anak itu berteman dengan orang baik maka ia mempunyai peluang terbawa baik pula, begitupun sebaliknya. Tak heran, jika kita pernah menemukan fenomena misalnya, ada seorang anak yang orang tuanya Ustadz tapi anaknya memiliki perilaku preman terminal, begitupun tak aneh, jika ada seorang anak yang orang tuanya itu berperilaku seperti preman namun anaknya shaleh. Hal ini, mengindikasikan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam  perkembangan perilaku seorang anak.
            Rasulullah SAW bersabda:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Dari Abi Hurairah r.a. sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. bersabda : “Seseorang itu mengikuti agama orang kesayangannya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang diantara kalian memperhatikan siapa yang menjadi kesayangannya.” (Hadits Riwayat Abu Dawud dalam Maktabah Syamilah No. 4193)
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Dari Abi Musa r.a. Nabi Muhammad Saw. bersabda : “Perumpamaan tempat duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti orang yang membawa minyak misik dan peniup pande besi. Pembawa minyak misik adakalanya memberikannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu beroleh bau yang harum darinya. Tetapi peniup pande besi adakalanya baju kamu terbakar oleh percikan apinya atau kamu beroleh bau yang tidak enak darinya. (Hadits Riwayat Bukhari dalam Maktabah Syamilah No. 5108)
                Barangkali kedua Hadits diatas sudah jelas menerangkan bahaya teman duduk yang buruk dan begitu pula bergaul dengan orang-orang yang jahat serta menjadikan mereka sebagai teman dekat sama bahayanya. Dengan demikian sikap selektif dalam memilih teman itu sangat diperintahkan dalam rangka untuk membentuk warna diri menjadi anak yang memiliki akhlaq terpuji. Meskipun demikian, kita tidak serta merta mengabaikan teman yang memiliki akhlaq yang belum baik begitu saja, sebab kita mempunyai kewajiban berdakwah. Allah berfirman :
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
            Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar;merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali-Imran : 104)
            Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mencantumkan salah satu hadits Rasulullah Saw. untuk menjelaskan ayat diatas . Hadits Riwayat Muslim, Dari sahabat Abi Hurairah r.a. Rasulullah Saw. bersabda :
"مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ"
“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka cegahlah kemungkaran itu dengan tanganmu, jika tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu juga maka cegahlah dengan hatimu dan hal itu merupakan selemah-lemahnya Iman.” (Tafsir Ibnu Katsir dalam Maktabah Syamilah 2 : 91)
            Betapapun upaya seorang pendidik atau orangtua untuk memelihara anaknya dari api dunia, maka memeliharanya dari api neraka sudah mesti harus diprioritaskan. Adapun jalan untuk itu adalah harus dengan mendidiknya, membersihkan pekertinya, mengajarinya akhlaq terpuji, dan menghindarkannya dari teman-teman yang buruk. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
            Jamaal ‘Abdur Rahman menegaskan “Sesungguhnya Allah telah menerangkan penyesalan yang sangat dalam dari orang-orang yang sekedudukan dengan orang-orang yang jahat karena menjadikan mereka sebagai teman-teman dekatnya dan sejalan dengan rombongan-rombongan mereka, kemudian meninggalkan teman duduk ahli kebaikan dan tidak mau serombongan menempuh jalan mereka yang lurus.” Allah berfirman :
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي 

وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً ﴿٢٩
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al-Furqon : 27-29).

“Bukalah Dunia Dengan Membaca”
            

Sumber bacaan : Jamaal ‘Abdur Rahman. Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah Saw. Bandung : Irsyad Baitus Salam. 2005.

0 komentar:

Poskan Komentar